Minggu, 27 November 2011

Konsep Kematian


a.       PENGERTIAN
Secara etimologi death berasal dari kata deeth atau deth yang berarti keadaan mati atau kematian. Sedangkan secara defenitif, kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan paru-paru secara menetap, atau terhentinya kerja otak secara permanen. Ini dapat dilihat dari tiga sudut pandang tentang defenisi kematian yakni,
1.      Kematian jaringan, kematian otak
2.      Kerusakan otak yang tidak dapat pulih, dan
3.      Kematian klinik, yakni kematian orang tersebut
Pandangan tentang kematian seiring waktu, pandangn masyarakat tentang kematian telah mengalami perubahan. Dahulu kematian cenderung dianggap sebagai hal yang menakutkan dan tabu. Kini,kematian telah dipandang sebagai hal yang wajar dan merupakan proses normal kehidupan.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan duka cita.
Berduka (kematian) adalah suatu keadaan dimana seseorang atau keluarga mengalami respon manusiawi yang melibatakan reaksi psikososial dan fisiologis terhadap kehilangan yang nyata atau di rasakan (orang,benda,fungsi,ststus dan hubungan). (Diagnosa Keperawatan edisi 6, hal.428). Berduka (kematian) adalah Respons emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.
Kematian oleh ulama sementara didefinisikan sebagai ketiadaan hidup atau anonim dari hidup. Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya, sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang fana ini.
Kehidupan pertama dialami olehmanusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedang kehidupan kedua saat ia berada di alam barzah, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat.

b.      KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN
Secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan suatu yang menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Al-Quran melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96).
"Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan" (Al Baqarah :96)


PANDANGAN AGAMA ISLAM TENTANG MAKNA KEMATIAN
Agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.
Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya.
Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad saw, misalnya bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian).” Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun" (QS Al-Nisa’ [14]: 77)
Kemudian Allah akan berikan kepada kita kebaikan yg besar di kehidupan yg panjang yaitu kehidupan akhirat. Kematian adalah pasti. Alangkah bodohnya kalau kita lbh mementingkan kesenangan sesaat dgn melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang membuang kesempatan kehidupannya di dunia hingga kematian menjemputnya. Padahal Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimajukan dan dimundurkan.
Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
"Tiap-tiap umat memiliki ajal ; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya" (al-A’raaf: 34)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yg mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Untuk itu Allah dan rasul-Nya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim"
Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur. Anak ayam yang terkurung dalam telur, tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian juga manusia, mereka tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati).
Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada kematian, antara lain al-wafat (wafat), imsak (menahan). Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya : “Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu.”
Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai salah satu isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang lebih mulia dan baik dibanding dengan kehidupan dunia.
Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri seberang.
Kematian juga dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia. Nikmat yang diakibatkan oleh kematian, bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti, tetapi juga dalam kehidupan duniawi, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian.
Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi makhluk manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
“Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]: 1-2)
Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.

Senam Kaki Untuk Penderita Diabetes


1. Pengertian
Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. (S,Sumosardjuno,1986)
Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi. (www.diabetesmelitus.com)
2. Tujuan
a. Memperbaiki sirkulasi darah
b. Memperkuat otot-otot kecil
c. Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki
d. Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha
e. Mengatasi keterbatasan gerak sendi
3. Indikasi dan Kontraindikasi
a. Indikasi
    Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini.
b. Kontraindikasi
1) Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada.
2) Orang yang depresi, khawatir atau cemas.
4. Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan
a. Lihat Keadaan umum dan keadaran pasien
b. Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan
c. Cek Status Respiratori (adakan Dispnea atau nyeri dada)
d. Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut
e. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/mood, motivasi)
5. Diagnosa Keperawatan yang Berkaitan dengan Tindakan
a. Resiko intoleran aktivitas b.d tirah baring, kelemahan
b. Resiko kerusakan integritas kulit b.d perubahan sirkulasi darah, hambatan mobilitas fisik
6. Implementasi
a. Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar, Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk), hanskun.
b. Persiapan Klien : Kontrak Topik, waktu, tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki
c. Persiapan lingkungan : Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi pasien, Jaga privacy pasien
d. Prosedur Pelaksanaan :
1) Perawat cuci tangan
2) Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai

3) Dengan Meletakkan tumit dilantai, jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali

4) Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki ke atas. Pada kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.

5) Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

6) Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
7) Angkat salah satu lutut kaki, dan luruskan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Ulangi sebanyak 10 kali.
8) Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai.
9) Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi langkah ke 8, namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi sebanyak 10 kali.
10) Angkat kedua kaki dan luruskan,pertahankan posisi tersebut. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang.
11) Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki , tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian.

12) Letakkan sehelai koran dilantai. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian, buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja
· Lalu robek koran menjadi 2 bagian, pisahkan kedua bagian koran.
· Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki
· Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh.
· Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola

7. Hal yang Harus di Evaluasi Setelah Tindakan
a. Pasien dapat menyebutkan kembali pengertian senam kaki
b. Pasien dapat menyebutkan kembali 2 dari 4 tujuan senam kaki
c. Pasien dapat memperagakkan sendiri teknik-teknik senam kaki secara mandiri
8. Dokumentasi Tindakan
a. Respon klien
b. Tindakan yang dilakukan klien sesuai atau tidak dengan prosedur
c. Kemampuan klien melakukan senam kaki

Sejarah Keperawatan


Seperti yang kita ketahui, bahwa jauh sebelum Florence Nighttingale ada perawat Muslim yang bernama Rufaidah binti Sa’ad yang selalu terlupakan oleh sejarah. Setelah Rasulullah menyampaikan risallah Islam banyak tokoh-tokoh Islam di bidang ilmu pengetahuan  lahir, pada saat itu islam memegang peranan penting di semua bidang ilmu pengetahuan seperti Filsafat, Astronomi, Matematika dan bahkan di bidang kesehatan, untuk bidang kesehatan mereka adalah : Ibnu Qoyyim Al-Jauzy, Ibnu Sina ( Avicenna ), Abu bakar Ibnu Zakariya Ar-Razi ( Ar-Razi ), Imam al Ghazali, Abu Raihan Muhammad Al-Biruni  dan tak ketinggalan untuk dunia keperawatan seorang tokoh muslimah yang ikut membantu Rasul untuk mengobati kaum muslimin yang terluka yang bernama RUFAIDAH BINTI SA’ AD Al- Asalmiya, Ummu Attiyah, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan keperawatan lainnya baik di jaman Rasul maupun sesudah kerasulan.
Banyak perawat-perawat muslim tidak mengenal Rufaidah binti Sa’ ad, mereka lebih mengenal tokoh keperawatan yang berasal dari dunia barat yaitu Florence Nighttingale seorang tokoh keperawatan yang berasal dari Inggris. Apabila kita ingin menelaah lebih jauh lagi ke belakang jauh sebelum agama Islam menyentuh dunia barat, dunia barat saat itu mengalami masa kegelapan dan kebodohan di karenakan kebijakan dari pihak gereja yang lebih banyak menguntungkan mereka, tapi disisi lain di belahan dunia lainnya yaitu Jazirah Arab dimana Islam telah di ajarkan oleh Rasulullah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan terutama dalam dunia keperawatan. Bukan berarti rasul menjadi seorang tabib tapi dalam ajaran Islam yang beliau sampaikan mengandung  ajaran dan nilai2 kesehatan seperti: pentingnya menjaga kebersihan diri (Personal Hygiene), menjaga kebersihan makanan, mencuci tangan, ibadah puasa, berwudhu dan lain sebagainya.
Rufaidah binti Sa’ad memiliki nama lengkap Rufaidah binti Sa’ad Al Bani Aslam Al-Khazraj yang tinggal di Madinah, dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar yaitu suatu golongan yang pertama kali menganut Islam di Madinah. Ayahnya seorang dokter dan dia mempelajari ilmu keperawatan saat membantu ayahnya. Dan saat kota Madinah berkembang Rufaidah mengabdikan dirinya merawat kaum muslimin yang sakit dan membangun tenda di luar Mesjid Nabawi saat dalam keadaan damai. Dan saat perang Badar, Uhud, Khandaq, dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Dia juga mendirikan Rumah Sakit lapangang sehingga terkenal saat perang dan Rasulullah SAW pun memerintahkan agar para korban yang terluka di bantu oleh dia.
Rufaidah juga melatih beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat dan dalam perang Khibar mereka meminta ijin kepada rasul untuk ikut di garis belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka dan rasul pun mengijinkannya. Inilah dimulainya awal mula dunia medis dan dunia keperawatan.    Rufaidah juga memberikan perhatian terhadap aktifitas masyarakat, kepada anak yatim, penderita gangguan jiwa, beliau mempunyai kepribadian yang luhur danempati sehingga memberikan pelayanan keperawatan kepada pasiennya dengan baik dan teliti. Sentuhan sisi kemanusiaan ini penting bagi seorang perawat (nurse), sehingga sisi tekhnologi dan sisi kemanusiaan ( human touch ) jadi seimbang.
Itulah sejarah singkat tokoh keperawatan dalam sejarah Islam dan kami akan menjelaskan sejarah perkembangan dunia keperawatan dalam dunia Islam
1.                  Masa penyebaran Islam ( The Islamic Period ) 570 - 632 M. Pada masa ini keperawatan sejalan dengan perang kaum muslimin / jihad ( holy wars ), pada masa ini lah Rufaidah binti Sa’ ad memberikan kontribusinya kepada dunia keperawatan.
2.                  Masa setelah Nabi ( Post prophetic era ) 632 - 1000 M. Masa ini setelah nabi wafat, pada masa ini lebih di dominasi oleh kedokteran dan mulai muncul tokoh2 Islam dalam dunia kedokteran seperti Ibnu Sinna ( Avicenna ), Abu bakar ibnu Zakariya Ar-Razi ( Ar-Razi ), bahkan Ar-Razi sendiri menulis dua karangang tentang " The Reason why some persons and common people leave a physician even if he is clever "
3.                  Masa pertengahan 1000 - 1500 M. Pada masa ini negara2 arab membangun RS dengan baik dan mengenalkan perawatan orang sakit, dan di RS tsb dimulai pemisahan antara kamar perawatan laki-laki dan perempuan dan sampai sekarang banyak di ikuti semua RS di seluruh dunia.
Masa Modern ( 1500 - sekarang ). Pada masa inilah perawat2 asing dari dunia barat mulai berkembang dan mulai ada. Tapi pada masa ini seorang perawat bidan muslimah pada tahun 1960 yang bernama Lutfiyyah Al-Khateeb mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo.

Prosedur Pemasangan Kateter


1.      Definisi
Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan. Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon. Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang berubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal. Jadi, kateterisasi kandung kemih adalah dimasukkannya kateter melalui urethra kedalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

2.      Tujuan
·         Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih
·         Untuk pengumpulan spesimen urine
·         Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih
·         Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan.

3.      Indikasi pemsangan kateter
Kateterisasi dapat menyebabkan hal - hal yang mengganggu kesehatan sehingga hanya dilakukan bila benar - benar diperlukan serta harus dilakukan dengan hati - hati. Olehkarena itu, kateterisasi hanya boleh dilakukan bila terdapat indikasi. Menurut Brockopdan Marrie, pada tahun 1999, pemasangan kateter dapat dilakukan baik sebagaidiagnosis maupun sebagai terapi.
a.       Indikasi Diagnosis Kateterisasi Urethra, antara lain:
·     Untuk mengambil sample urine guna pemeriksaan kultur mikrobiologi dengan menghindari kontaminasi.
·   Pengukuran residual urine dengan cara melakukan regular kateterisasipada klien segera setelah mengakhiri miksinya dan kemudian diukurjumlah urine yang keluar.
·         Untuk pemeriksaan cystografi, dengan cara kontras dimasukan dalamkandung kemih melalui kateter.
·         Untuk menilai produksi urin
·         Untuk pemeriksaan urodinamik yaitu cystometri dan uretral profil pressure.
b.      Indikasi terapeutik kateterisasi, antara lain :
·     Dipakai dalam beberapa operasi traktus urinarius bagian bawah seperti secsio alta, repair reflek vesico uretral, prostatatoktomi sebagai drainage kandung kemih.
·         Mengeluarkan darah atau ebdapan (clots)
·       Mengatasi obstrruksi infra vesikel seperti pada BPH, adanya bekuan darah dalam buli buli, striktur pasca bedah dan proses inflamasi pada uretra.
·         Penanganan inkontinensia urine dengan intermitten self catheterization.
·         Pada tindakan kateterisasi bersih mandiri berkala
·         Memasukkan obat – obat intervesika antara lain sitostatika/antipiretika untuk buli – buli.

4.      Kontraindikasi
Pemasangan kateter urethra memiliki beberapa komplikasi, sehingga terdapat beberapakontraindikasi, di antaranya adalah sebagai berikut:
·         Urethritis dan Infeksi Kandung KemihJika pasien telah didiagnosis mengalami urethritis dan atau infeksi saluranperkemihan, maka tindakan katetrisasi urethra belum boleh dilaksanakan.Karena pada proses kateterisasi yang kurang steril, mikroba dapat denganmudah masuk ke urethra dan bahkan sampai pada vesica urinaria sehinggadapat menyebabkan superinfection
·         Trauma pada UretraKateterisasi dapat menyebabkan trauma pada urethra semakin parah, sehinggapada pasien yang mengalami trauma pada uretra tidak diperbolehkan untukdilakukan tindakan pemasangan kateter.
·         Ruptur urethra.
·         Gross Hematuria
Jika terdapat atau terlihat darah dari urine, maka prosedur pemasangan katetertidak diperkenankan

5.      Prosedur
SARANA DAN PERSIAPAN
·         Alat
a.       Tromol steril berisi
b.      Gass steril
c.       Deppers steril
d.      Handscoen
e.       Cucing
f.       Neirbecken
g.      Pinset anatomis
h.      Doek
i.        Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan
j.        Tempat spesimen urine jika diperlukan
k.      Urobag
l.        Perlak dan pengalasnya
m.    Disposable spuit
n.      Selimut

·         Obat
a. Aquadest
b. Bethadine
c. Alkohol 70 %

·         Petugas
a.   Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkandalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial
b.      Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud
c. Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaan penderita, melakukan tindakan harussopan, perlahan-lahan dan berhati-hati
d.      Diharapkan penderita telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dantujuan tindakan

·         Penderita
Penderita telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent

PENATALAKSANAAN
1)      Menyiapkan penderita : untuk penderita laki-laki dengan posisi terlentang sedangwanita dengan posisi dorsal recumbent atau posisi Sim
2)      Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik
3)      Siapkan deppers dan cucing , tuangkan bethadine secukupnya
4)      Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita
5)      Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine
6)      Melakukan desinfeksi sebagai berikut :
·         Pada penderita laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan . desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penisdan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol.Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kananmemegang pinset dan dipertahankan tetap steril.
·         Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora, desinfeksi dimulaidari atas ( clitoris ), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3kali . deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan penampakan meatus urethra.7. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk penderitalaki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jellydalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit.8. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik nafas dalam.
·         Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurustubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kananmemegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hatibersamaan penderita menarik nafas dalam. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanankateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelumurine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm danselanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.
·         Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangankanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafasdalam . kaji kelancaran pemasukan kateter, jik ada hambatan kateterisasidihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar.Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnyadimasukkan lagi +/- 3 cm.9. Mengambil spesimen urine kalau perlu10.Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera padalabel spesifikasi kateter yang dipakai11.Memfiksasi kateter :Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomenPada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha12.Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandungkemih13.Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi :
·         Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
·         Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
·         Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
·         Nama terang dan tanda tangan pemasang


Referensi
Widjoseno Gardjito,Urologi, Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab/UPF Ilmu BedahRSUD Dr. Soetomo, Surabaya, 1994
Prosedur Tetap Standar Pelayanan Medis IRD Dr. Soetomo. 1996.
Advanced Trauma Life Support Program Untuk Dokter, Cedera Kepala,Committee on Trauma American College of Surgeons, Terjemahan KomisiTrauma IKABI, 1997